Melihat jauh,Melihat hati,Melihat dekat

sering kita denger:

“tadi gua ngliat, dia di jalan…” atau “hmm,,gua yakin tadi gua liat dengan jelaaas banget..” atau “lah masa gak liat ude deket gitu…”

  1. anggap gua sebagai seorang yang gak punya mata (buta), bagian pertanyaan mana yg akan sering di bilang?
  2. anggap gua sebagai seorang presiden yang nyatut ijazah,dan melakukan kebohongan publik, pertanyaan bagian mana yang sering gua bilang?
  3. anggap gua seorang penonton sepak bola, bagian pertanyaan mana yang pasti paling sering diucapin?

yaaa….bingung,gua juga bingung baca tulisan gua sendiri…hahaha (tapi sebentar sobat,awal cerita baru dimulai)…

sebagai pembukaan gua ambil sitiran tulisan gua yang uda lamaa bgt gua tulis:

kata Max Depree,

“Tanggung jawab utama seorang pemimpin tim adalah mendefinisikan realita. Tanggung jawab terakhirnya adalah mengucapkan terima kasih. Diantara keduanya, sang pemimpin harus menjadi pelayan dan seorang yang berhutang. Itulah rangkuman kemajuan dari seorang pemimpin berseni.”

suatu kali tim berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik, figur pemimpin hilang dan semua anggota mengatakan, “Kami sendiri yang melakukannya!!”

Kalo gua liat dari setiap bentuk organisasi pasti timbul suatu masyarakat/kelompok:

  1. Orang level 1 : LOYAL (menurut KBBI artinya:patuh,setia)
  2. Orang level 2 : TOTAL (menurut KBBI artinya: 1 jumlah; 2 menyeluruh; sepenuh-penuhnya; semesta; 3 sama sekali: gerhana matahari — diperkirakan akan terjadi pd tanggal 20 Juni; kota itu mengalami kerusakan — selama Perang Dunia II; buta — , tidak dapat melihat sama sekali;)
  3. Orang level 3 : WARGA (hanya sebagai syarat pemenuhan sebagai komunitas Organisasi)
  4. Orang level 4 : SAMPAH (kelompok orang yang uda “jelas” ketidakjelasannya di Organisasi tsb)

(loyal sudah pasti total dan total belum tentu loyal….itu menurut gua,mungkin untuk sebagian orang bisa lebih banyak lagi memandang hal ini)

Nah,di setiap level tersebut,didiri tiap-tiap orang tentu punya alasan, mungkin itu sebuah pilihan ,kemauan,tuntutan sesuatu, atau kepentingan dan peran..yah apapun itu, intinya menghasilkan Output (keluaran) yang memberikan kesimpulan si orang tersebut termasuk ke jenis kelompok yang mana.

(sampai disini ada pertanyaan…halah,cem dosen aja gua…tapi ayo terus lanjut belum selese ini)

Setiap pemimpin pasti punya tujuan, dan pemimpin yang terpilih di dlm suatu organisasi logikanya adalah pemimpin yang tujuannya paling dekat dengan tujuan organisasi tersebut, sehingga kasarnya bisa dibilang pemimpin adalah representasi dari organisasi yang dipimpinnya. Karena mayoritas suara berkata putih diatas hitam atau sebaliknya hitam diatas putih (mana kita tau…)

Seninya, sampai sejauh apa pemimpin tersebut bisa membuat bawahannya bisa mewujudkan tujuannya yang bermuara pada tercapainya tujuan organisasi tersebut. Ada 2 hal karakter kepemimpinan,yang selama ini ng-ganjel di hati gua,karena gua pernah mencoba kedua hal tersebut,untuk sekedar meng-analisis diri gua:

  1. Pemimpin yang berpegan teguh pada tujuannya. (artinya tujuannya tercapai dengan baik tentunya dengan mengoptimalkan kinerja level kelompok 1&2,tetapi menimbulkan dampak penambahan kuantitas level kelompok yang signifikan mulai dari level 1&2 menjadi 3&4, yang berarti bahwa kekeluargaan organisasi tersebut bisa dibilang “terancam”, bisa jadi ada jurang pemisah yang real antara kelompok 1&2 dan 3&4 )
  2. Pemimpin yang menyenangkan dan disenangi keberadaanya. (artinya tujuannya berkemungkinan besar tidak tercapai atau bisa mendekati kegagalan, tetapi kekeluargaan dan keakraban terjamin dengan pasti dan jumlah mayoritas berada pada level 1&2.)

(oke…gua lg konsen merumuskan kesimpulan,ni..jd lgsng lanjut lagi)

2 pilihan karakter kepemimpinan tadi adalah pilihan yang biner (yaitu kalo gak 1 yaa 2,bgtu jg sblknya). Jadi di dunia organisasi yang berbentuk hanya ikatan emosional saja hukum ini sangat-sangat berlaku. Tidak ada jawaban yang salah atas pilihan-pilihan tersebut, kedua-duanya benar,tinggal butuh perenungan lebih dan “melihat” lebih jauh,”melihat” ke hati, dan “melihat” yang dekat.

Menurut gua, kecil kemungkinan,untuk seorang pemimpin bisa mengkolaborasikan karakter memimpin 1 dan 2, karena tidak cukup waktu untuk membuat level kelompok 3&4 untuk berubah menjadi 1&2, sehingga bila pemimpin tersebut ingin tujuannya tercapai (mindsetnya:”hasil akhir”) maka hal tersebut mjd alasan…akan tetapi bila pemimpin tersebut mementingkan peran level 3&4 untuk dapat menjadi 1&2 di akhir kepemimpinannya dengan (mindsetnya:”proses”) berbagai kenangan,dan memori indah yang membekas sampai suatu hari di masa depan akan didapat…

Kecuali bila pemimpin tersebut berada di lingkungan organisasi yang orang-orangnya “sinergis” dan “produktif” alias aktif. Sehingga kolaborasi karakter memimpin bisa diterapkan.
(definisi aktif menurut gua itu adalah, orang yang gk bisa berdiam diri, dia terus memaksa untuk menggunakan otaknya terus bekerja,darahnya mengalir dengan cepat karena pompaan adrenalin yang tidak di miliki orang pasif, dan metabolisme tubuh yang lebih lancar daripada orang yang pasif)

pertanyaanya….Apakah setiap Organisasi yang hanya berbasis ikatan emosional mempunyai lingkungan seperti itu?
pastinya,,,kalian yang membaca tulisan ini punya jawaban masing-masing..
tetapi gua punya jawaban pribadi yaitu:TIDAK (soalnya kalo IYA tidak mungkin ada kelompok 3&4 di organisasi tersebut)

Hati-hati untuk men-judge golongan/kelompok itu termasuk kelompok 3&4,
karena setiap WARGA perlu untuk dipenuhi HAKnya dan ditagih KEWAJIBANnya…dan satu lagi karena setiap SAMPAH butuh untuk dibuatkan tong sampah (media) agar tidak berserakan dimana-mana yang membuat kesan yang negatif.

dan perlu WASPADA juga untuk memilih golongan/kelompok 1&2,
karena setiap keLOYAL-an ada batasnya, dan
sifat yang TOTAL kemungkinan besar mengharapkan sesuatu dari apa yg telah dilakukannya (inget di arti KBBI tentang kata “TOTAL” yg punya arti “sama sekali” yg bisa berarti “tidak sama sekali” dan “iya sama sekali”).

Intinya gunakan seni memimpin,sehingga tujuan&kekeluargaan msg2 bisa seimbang dan keuntungan dari sikap orang-orang 1&2 dapat di maksimalkan tetapi 3&4 tetap berada di jumlah yang minoritas.

Memimpin itu menurut gua “SENI”, setiap SENI punya daya tarik/keindahan,originalitas,dan ungkapan masing-masing…yang hanya dapat dilihat (analogi:lukisan), dirasakan (analogi:seni patung/pahat), dan didengarkan (analogi:nada/musik), sehingga apapun kebijakan hasil memimpin itu pada akhirnya hanya bisa dilihat,dirasakan,dan didengarkan,tidak dapat diubah seenaknya,dilawan atau di nodai…bila itu dilakukan “SENI” tersebut tidak lagi indah.

Tetapi suatu “SENI” bisa dinilai dan diberi ungkapan, semakin banyak orang mengungkapkan nilai/ungkapan yang sama maka akan terbentuk kata-kata BENAR atau SALAH terhadap “SENI” tersebut .(yang pada awalnya orang bilang “SENI itu tidak mengenal BENAR dan SALAH”). Tentunya Seni yang “KONGKRIT” yang cuma bisa di nilai..bukan “SENI” abstrak yang susah dilihat sudut keindahannya sehingga sulit untuk dinilai.

Kesimpulan gua:

“Berat untuk menjadi pemimpin, karena susah untuk membuat lukisan indah di kanvas, membentuk setiap lekukan di patung ,dan mengatur komposisi nada-nada yang dialunkan dengan indah yang dibuat oleh para komposer. Tetapi bukan berarti tidak bisa untuk menjadi pemimpin.

Peran pemimpin itu vital, sesuai dengan judul postingan ini, dia minimal harus bisa punya mata yang berkelakuan seperti itu. dapat Melihat Jauh,Melihat Hati,dan Melihat Dekat (pastinya dia melibatkan keseluruhan pikiran dan hatinya dalam setiap mengambil keputusan) untuk para orang-orang LOYAL,TOTAL,WARGA,dan SAMPAH tadi.

dan untuk penutup (yang tadi uda ada di pembuka) gua ingatkan kembali kata-kata tentang seorang pemimpin ini:

kata Max Depree,

“Tanggung jawab utama seorang pemimpin tim adalah mendefinisikan realita. Tanggung jawab terakhirnya adalah mengucapkan terima kasih. Diantara keduanya, sang pemimpin harus menjadi pelayan dan seorang yang berhutang. Itulah rangkuman kemajuan dari seorang pemimpin berseni.”

suatu kali tim berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik, figur pemimpin hilang dan semua anggota mengatakan, “Kami sendiri yang melakukannya!!”

Jadilah pemimpin,minimal untuk diri sendiri

P.S: Thx to Reva & Afief yang ikut ngasi tau gua bagaimana mengalunkan “SENI” yang indah itu…salut buat kalian …kutunggu “SENI” yang “kongkrit” mu lagi…ini awal kita angkatan 2006.


About this entry